Bagaimana Nasib Masa Depan Sterling Hingga Saat Ini. Raheem Sterling, winger serba bisa asal Inggris, kini jadi pusat perhatian dengan nasib masa depan yang penuh tanda tanya di Chelsea. Pada 13 November 2025, setelah mengalami percobaan perampokan kedua di rumahnya di Berkshire, Sterling dikabarkan semakin condong pindah ke Serie A untuk cari ketenangan baru. Pemain 30 tahun ini sudah diasingkan sejak awal musim di bawah Enzo Maresca, tak sentuh menit bermain sama sekali di Premier League atau kompetisi lain. Kontraknya masih panjang hingga 2027 dengan gaji mencapai 325 ribu poundsterling per minggu, tapi situasi ini bikin ia seperti tahanan di Stamford Bridge. Dari bintang Manchester City yang raih gelar Liga Champions, kini Sterling hadapi dilema: bertahan di pinggir skuad atau lompat ke liga Italia yang lebih tenang? Kabar perampokan ini tambah urgensi, bikin fans dan pengamat bertanya: apa langkah selanjutnya bagi eks kapten timnas Inggris ini? REVIEW FILM
Latar Belakang Karier Sterling di Chelsea: Bagaimana Nasib Masa Depan Sterling Hingga Saat Ini
Sterling gabung Chelsea pada musim panas 2022 dari Manchester City dengan biaya 47,5 juta poundsterling, harapannya jadi pilar serangan di era Thomas Tuchel. Awalnya, ia langsung adaptasi: musim debut catatkan 13 gol dan 6 assist di semua kompetisi, termasuk kontribusi krusial di Liga Champions hingga semifinal. Gaya bermainnya—cepat, lincah, dan pintar cutting inside—cocok dengan transisi cepat Chelsea saat itu. Ia juga wakili semangat baru, bantu tim finis ketiga di Premier League dan raih Piala Super Eropa.
Tapi musim kedua, 2023/24, mulai goyah. Pergantian pelatih ke Mauricio Pochettino bawa tekanan lebih, dan Sterling kesulitan rebut posisi reguler di tengah kedatangan Cole Palmer dan Pedro Neto. Ia main 31 laga tapi hanya 2 gol, dengan rata-rata 1,2 dribel sukses per pertandingan—turun dari musim sebelumnya. Di luar lapangan, ia aktif di RS7 Academy untuk dorong pemuda, tapi performa lapangan yang inkonsisten bikin kritik mengalir. Musim panas 2024, saat Maresca ambil alih, Sterling tolak tawaran pinjaman ke Arsenal dan Aston Villa, pilih bertahan demi bukti diri. Sayangnya, keputusan itu berujung pengasingan: ia tak masuk skuad utama sejak Agustus, dan kini latihan terpisah di lapangan lain bersama Axel Disasi dan David Datro Fofana—kelompok yang disebut “bomb squad” oleh media.
Performa Terkini dan Pengasingan di Chelsea: Bagaimana Nasib Masa Depan Sterling Hingga Saat Ini
Musim 2025/26 jadi mimpi buruk bagi Sterling. Sampai November, ia nol menit bermain, bahkan tak masuk bangku cadangan untuk 12 laga awal Chelsea di Premier League dan Liga Champions. Maresca tegas: “Ia tak cocok dengan visi taktikal kami yang butuh intensitas tinggi di sayap.” Ini kontras dengan masa jayanya, di mana ia raih sepatu emas Premier League 2018 dengan 18 gol. Kini, usia 30 tahun bikin ia kesulitan saingi Noni Madueke dan Jadon Sancho yang lebih muda dan fleksibel. Statistik terakhirnya—gol terakhir pada September 2024 lawan tim Italia—sudah 14 bulan lalu, tunjukkan penurunan tajam.
Pengasingan ini tak cuma soal lapangan. Sterling dihilangkan dari foto resmi tim musim ini, simbol ia dianggap outsider. Ia akui frustrasi di wawancara singkat akhir September: “Saya ingin main, tapi harus hormati keputusan pelatih.” Di timnas Inggris, posisinya juga goyah; Gareth Southgate tak panggil ia sejak Euro 2024, dan penerusnya pun prioritaskan talenta muda seperti Bukayo Saka. Tambahan beban pribadi: perampokan pertama pada Juli 2024 saat ia libur, dan yang kedua pada 9 November 2025 saat ia dan anak-anaknya di rumah. Masked intruders gagal kabur karena rumah tak kosong, tapi insiden ini bikin keluarganya trauma—faktor besar dorong ia pertimbangkan pindah luar Inggris. Chelsea dukung keamanannya, tapi situasi ini tambah tekanan mental, bikin fokusnya terpecah.
Rumor Transfer dan Opsi Masa Depan
Dengan jendela transfer Januari 2026 tinggal sebulan, masa depan Sterling jadi ramai. Musim panas lalu, ia tolak Juventus dan Bayer Leverkusen karena gaji tak sesuai ekspektasi, plus Fulham yang hampir deal tapi batal. Kini, setelah perampokan kedua, minat Serie A menguat: klub seperti AC Milan dan Inter Milan pantau ketat, tawarkan kontrak tiga tahun dengan gaji 200 ribu euro per minggu plus bonus. Italia janjikan ketenangan—liga kurang intens dari Premier League—dan peran utama sebagai winger berpengalaman.
Opsi lain termasuk pinjaman ke Turki atau Arab Saudi, di mana deadline transfer lebih longgar, tapi Sterling tolak karena ingin tetap di Eropa untuk jaga peluang timnas. Agennya aktif bicara dengan Chelsea soal pemutusan kontrak dini, meski klub pegang kendali finansial. Nilai pasarnya turun ke 15 juta poundsterling dari 50 juta tahun lalu, tapi gaji tinggi bikin sulit cari klub. Jika bertahan, Maresca janjikan kesempatan bukti diri di pramusim 2026, tapi pengamat ragu: Chelsea prioritaskan regenerasi dengan pemain muda seperti Kendry Paez. Bagi Sterling, Januari jadi titik putus: pindah untuk restart karir, atau sabar tunggu kesempatan tipis di London. Ia juga pertimbangkan pensiun dini jika tak ada tawaran solid, fokus pada bisnis dan akademi.
Kesimpulan
Nasib masa depan Raheem Sterling hingga November 2025 penuh liku: dari bintang City yang tak tergoyahkan, kini jadi outcast di Chelsea dengan pengasingan total dan trauma perampokan. Pengorbanan bertahan musim panas lalu berujung kekecewaan, tapi semangatnya di RS7 Academy tunjukkan ia tak menyerah. Dengan Serie A sebagai pelarian potensial, Januari 2026 bisa jadi babak baru—pinjaman atau transfer permanen untuk bangkit lagi. Chelsea harus putuskan: lepas aset mahal ini atau integrasikan kembali. Bagi Sterling, ini ujian ketangguhan: di usia 30, ia masih punya skill untuk level top, asal temukan klub yang hargai pengalamannya. Sepak bola penuh comeback, dan cerita Sterling bisa jadi inspirasi—dari limbo ke kilau baru, tergantung langkah selanjutnya.